Hari pertama Dilah magang di hotel BP tertanggal 1 Januari 2019. Kini Dilah yang setengah sadar, baru enak-enakan tahun baruan keliling Tanjungunggat, teluk keriting, sampai tepi laut yang ada logo Konoha di anime sono itu sejak 2016 lalu. Dilah yang masih bobo cantik itu dipanggil mamanya, "Lah, kamu kerja loh di BP. Ibu wali kelas mu wa mama. Katanya jangan lupa jam 8 udah aja di BP. Ibu pembimbing magang sama ibu wakil kelas disana absen orang-orang yang magang".
Dilah pun meracau, "M-ma? Ngantuk". Kini papanya gak sabaran marahin Dilah, "Kalau kata cepat, ya cepatan! Mau jadi apa kamu? Jadi gembel!". Kini Dilah pun tersadar dari bangunnya dan dia pun langsung ambil handuk langsung mandi. Sungguh jam 7 pagi yang gila, kemudian dia mengeluh, "Ugh, dasar mama, papa. Saya nih lagi haid. Ganggu saja ketenangan ku". Dia masih mengeluhkan sambil mengguyur badannya itu.
Kemudian dia mandi sambil mengoceh sana sini, "Tak tahu ya, saya habis jalan-jalan sama teman-teman semalam, saya belum juga lagi tidur nyenyak lagi, udah ganggu saja". Kini ocehannya semakin menjadi-jadi hingga setengah jam berlalu dia selesai dengan mandi paginya.
Tak sampai di kamarnya dia pun mengoceh tak kalah seperti kereta cepat Jakarta Surabaya itu, sambil ungkapkan kekesalannya via live tiktoknya, sehingga penggemar di dunia maya itu terheran-heran dibuatnya sambil memberikan giving thanks kepadanya itu. Akhirnya jam 7 lewat 35 menit dia udah siap dengan baju hotel hitam putihnya dengan kerudung hitam yang menempeli sanggulnya.
Papanya bilang dia, "Cepatlah! Papa mau ke pasar, beli barang masakan dapur, kamu juga disuruh wali kelas datang jam 8. Jangan manja lah? Cepatan!". Kini Dilah dengan helm putih tertanda Scoopy fi nya berangkat dengan papanya dengan helm hitam tertanda Honda itu.
Jam 8 pas, papa dan Dilah sampai di aula utama lobi hotel BP itu. Dilah dan temannya Sarah anak XI PH 1 itu dan 1 anak magang dari SMK swasta Pariwisata Bintan itu. Dilah tanyakan Sarah, "Ra, itu siapa?". Sarah tanyakan, "Lah. Saya tidak tahu. Coba kamu tanyakan saja lah". Kini Dilah dan Sarah fokus ikuti saran apa yang disampaikan guru pembimbing itu dan wanita di SMK swasta itu, masih menatap lain dari pandangannya.
Jam 8 lewat 15 menit, ibu pembimbing berdebat sengit dengan resepsionis itu, "Kenapa Bu? Anak didik saya tidak boleh pakai jilbab disini!". Ibu Fera, resepsionis hotel BP itu yang jaga bersama temannya ibu Nanda berusaha menengahi permasalahan tersebut, "Begini Bu, sudah regulasi dari atasan. Bos BP yang orang Chinese itu, memang perempuan itu berpakaian seperti orang Chinese. Jadi bisa dibilang bos kita anti sama perempuan yang berjilbab". Kini ibu Tari dan ibu Hari guru pembimbing skanda itu hanya menghela nafas berat dan bertanya kepada anak didiknya itu, "Dilah, Sarah. Kalian ikuti saja regulasi hotel ini. Tidak apalah tidak memakai jilbab. Toh ini magang 6 bulan aja loh. Nanti selesai dari ini, ibu akan bantu tingkatkan nilai raport magang kalian Juni nanti. Tetap semangat dan siap kerja ya, anak-anakku". Mereka berdua siap dengan senang hati dan wanita rival magangnya itu mengoceh sambil menyilangkan tangannya, "Cih! Dasar budak-budak mentahan. Bisa apa sih mereka?".
Jam setengah 9, ibu Nanda yang sebagai vice resepsionis itu menginstruksikan kepada ketiga magang hotel BP itu untuk bekerja sesuai dengan penempatannya, "Vera, kamu di lantai 2, kamar 201 sampai kamar 212. Dila kamu di lantai 4, kamar 401 sampai 413. Oh, dan kamu Sarah, kamu di lantai 6, kamar 601 sampai 609. Tugas kalian bersih-bersih kamar. Ingat, satu hal lagi. Jika ada customer di kamar itu, kalian skip cari kamar yang kosong untuk dibersihkan. Apa kalian mengerti?". Mereka bertiga menjawab, 'Siap. Dimengerti buk' dan akhirnya mereka bergegas ke tempat yang dipersiapkan.
(Di sisi Vera) dia kunjungi kamar 201, lalu dia main buka aja pintunya, tiba-tiba ia kaget sejadi-jadinya, ada 2 orang mesu* di hotel itu, sambil pakai pakaian alakadarnya, dan bapak muda itu teriak, "Dasar kau pel*kor ganggu saja kita yang lagi pacaran". Kemudian bapak muda itu melemparkannya bantal hotel yang cukup keras berisi kapuk itu tepat mengenai mukanya dan Vera jatuh begitu kerasnya sambil kepalanya terpentok lantai kasar itu. Kemudian dia menutup kamar 201 dengan penuh gemetar, dan dia pun menangis sejadi-jadinya sambil terduduk lesu di samping koridor samping kamar 201 dan 203 itu, "Kenapalah nasib ku seperti ini. Di kelasku, bapak ibu guru ku tidak memperhatikan ku, teman-teman ku menjauhiku. Hu-huu-hu-hu. Ma? Pa? Saya mau pulang, saya mau pulang".
(Di sisi Dilah) kini pun dia tertatih-tatih masuk ke koridor lantai 4 itu, walaupun dia sudah naik lift. Ternyata ada tangga kecil menuju koridor kamar 401 sampai 413 itu. Dengan nada mendesah rasanya, kini Dilah mengetuk kencang pintu 401, ternyata tidak ada tanggapan. Dilah main masuk saja ke ruang itu dan tanpa dia sadari, ruangan itu udah kaya habis dijarah para penyamun di Alibaba bujang lapok itu, siapa lagi kalo bukan piramli sama ajisatar itu. Ku melihat ada resi pemilik yang tidur di kamar itu (kebetulan itu namanya, kaya nama orang di vrindavan itu). Kemudian karena merasa risih, dia pakai kacamatanya, pakai masker untuk menutup bibirnya yang melok itu dan merapikan sanggulnya agar tidak terurai saat dia bekerja. Akhirnya yang ditakutkan itu kejadian juga. Saat dia bersihkan semua sampah ada banyak beberapa kecoa berterbangan di hotel itu dan dia teriak walaupun dia bermasker, "kyaaaaaaa, saya takut. Astaghfirullah Al adzhim. Ma? Pa? Tolong aku, tolonglah".
(Di sisi Sarah) dia pun sampai di lantai 6, entah kenapa dia melihat sosok lelaki, yang mirip dengan pacarnya Haras itu. Ku tanyakan, "Ras, ras. Itu kamu?". Kemudian lelaki itu berbalik dan dia pun kaget, "Maaf, saya salah orang". Kemudian dia pun pergi, tapi tak segampang itu lelaki itu gercep memeluk tubuh gadis itu sehingga ia meronta sejadi-jadinya, "bang. Tolonglah. Ini ditempat umum. Saya wajib kerja disini kalau tidak Bu Nanda bos saya marah nih". Kemudian lelaki itu menolak tegas dan menggodaku, "neng. Tak segampang itu, kau menolak ku. Tolonglah minta no WhatsApp kamu, sama Ig kamu. Kalau bisa nanti malam kita makan bareng yuk". Kini Sarah pun berjuang untuk melepaskan diri dari lelaki hidung belang yang belum aja ia kenal itu, dan lelaki itu semakin mendekati diriku itu.


