Jiwaku yang bersedih // Deskripsi Arin
Balasan (baik bagi) pelaku kebajikan
...
2013
Suatu hari seorang bocah ingusan 16 tahun duduk di kelas 2 SMA tidak menyangka beberapa semester sebelumnya dia selalu mendapatkan peringkat 3 terbaik. Kala itu 2013 di semester 3 dia menetapkan peringkat terbaik di kelasnya. Tapi semuanya itu berubah saat ia mengumpat satu kata p*ntek itu kata yang iya ucapkan dan semuanya berubah seketika saat itu juga. "Woy Arin. Ngapain sih kamu ngomong carut di depan guru sejarah terbaik di kelas XI IPA 2 ini," Seketika suara Rian itu pun meninggi. Saat itu juga kelas XI IPA 2 kini berubah menjadi pentas neraka gegara satu kata carut yang membuat seisi kelas tersebut menjadi jengkel. Dan gara-gara perkataan tersebut kini aku telah menjadi bumerang Api yang menyakiti hati orang termasuk guru sejarah terbaik di kelasku Pak Dahlan. Bahkan Miarti, pacarku menyadari apa yang aku lakukan.
...
Pak Dahlan guru sejarah ku memanggilku. "Sini maju ke depan. Bapak mau bicara sama kamu". Kini saat mendengar suara guru killer itu membuat kaki saya seperti menggigil, tubuhku terasa panas dingin seketika dan rasanya saya duduk disamping Miarti yang ada di sebelah ku terasa berbeda. Ku coba beranikan diri untuk maju ke depan berasa belasan meter jaraknya bikin hatiku dak dik Duk serr dibuat nya dan Miarti duduk di sebelahku hanya mematung melihat cara berjalanku yang terasa aneh ini.
...
Terdengar suara di kejahuan "dasar p*ntek kau Arin". Biarlah aku terima suara si Nofri yang jengkel melihat wajah sombong ku. Mang saya selaku wakil ketua kelas XI IPA 2 tidak ada kontribusinya sama sekali dibandingkan si Nofri ketua kelas ku yang kini duduk bersebelahan dengan si Rensi yang ternyata acuh tak acuh melihat ku. Mang itu terjadi setahun terakhir Nofri dan Rensi ialah dua remaja idola Smansa Juba dan sudah setahun terakhir mereka selalu bersama dan dia tinggal tak berjauhan si Nofri tinggal di kampung ngaso dan si Rensi tinggal di kampung syuhada batu 3 Juba. Aku gak iri dengan mereka karena aku dan Miarti katanya duduk bersama setelah beberapa hari terakhir dan kini rasanya seperti abu-abu campur aduk dibuatnya.
...
Kini yang duduk dekat meja guru meneriaki ku. "woy cepat. Gurunya sudah manggil. Dah 3 menit nih. Guwe dan teman-teman guwe mau belajar. Gak kaya Lo bocah ingusan". Kini belasan meter pun telah ku lalui tinggal beberapa centimeter lagi menuju tatapan mata guru killer ini. Saya bergumam, "Andai saja aku tidak mengucapkan kata itu. Aku gak jadi kaya gini, dan di permalukan seisi kelas XI IPA 2 ini, semoga saja ini menjadi kesalahan terakhir ku dan Miarti," kini hatiku merasakan kesakitan yang nyata dan itulah kekurangan dari diriku. Dan semoga mereka tidak mengetahui bahwa aku ini orang yang seperti cacat mental, seperti layaknya zombie berjalan di siang bolong. Untung kalau bukan karena Miarti aku tak seliar ini. Ku tutup mataku dan inilah pengalaman jiwa yang bersedih dari diriku. "Miarti oh Miarti, tolong bantu aku," gumam ku.
...
Smansa Juba namanya sudah tidak asing lagi di mana mana. Kala itu di 1989 mamaku Indri adalah gadis kampung SMA negeri 1 Juba nama Smansa Juba dulu di 90an. Mamaku mang orang yang kecerdasan nya rata-rata dan ia hanya sekali mendapatkan hasil 60 di pelajaran matematika ebtanas di sekolah nya. Kala itu Smansa Juba dulu zaman Mama saya hanya ada 6 lokal di 3 kelas yang berbeda yakni A dan B. Mamaku pernah masuk kelas 1A di 1989, dia pernah masuk di kelas 2B di 1990 dan kelas 3A di 1991. Dia lulus dengan nilai sempurna dengan nilai rata-rata ujian ebtanas nya di kisaran 66. Itu menurutku hasil terbaik dengan nilai peringkat C atau B minus kala itu. Mang mamaku itu didik cukup keras oleh nenekku Mbah Nuriyah yang kerjanya adalah petani rempah-rempah di kampung Juba. Aku dan mamaku tinggal di kampung yang sama yaitu di kampung RK harapan batu 1 dan di sebelah nya ada sekolah SMP 1 Juba yang berdiri nya agak mewah di tempatku sejak pindah bersama orang tua ku, papaku, mamaku dan kedua adik kandung ku sejak 2011 akhir bulan ke7. "Aku merasa ini semua pengkhianatan buat diriku" omelku kala itu saat pertama kali sampai di kampung entah berantah di Juba itu.
...
Entah kenapa aku menjadi berpikiran pendek itu semua gegara 2 bulan yang lalu. Aku mendapatkan hasil terbaik di UN SMP negeri 74 Jakarta dengan nilai rata-rata UN dan UAS yakni UN dengan rata-rata 77,68 dan UAS dengan rata-rata 86,78 dan mamaku mencoba masuk ke SMA terbaik ku di dekat kelurahan tempat ku tinggal di Jalan balok 15 kampung Ambon yakni SMA negeri 21 Jakarta. Aku ikuti langkah langkah yang saya lihat di brosur penerimaan PPDB SMA negeri 21 Jakarta yang cuma selembar kertas putih saja dan mamaku sibuk tanya-tanya gimana sih prosedurnya. Kini aku membung ludah "cihh, buang-buang waktu saja," gumam ku. Kini aku lihat aula lapangan SMA negeri 21 Jakarta yang membuat ku terpana "Masya Allah ini sekolah atau perguruan tinggi yah. Besar amat,". Kini suara perutku keroncong an"peruutt" ku memegang perutku yang kratak krutuk rasanya. Tapi di sisi lain aku ini malu bocah gendut dengan berat badan 70 kg tak sesuai dengan umurku 14 tahun yang super chubby ini kaya choji di serial anime Naruto itu. Ku melihat warung berwarna hijau di sebelah sekolah SMA negeri 21 Jakarta dan ku sudah di luar pagar hitam sekolah yang sudah kaya sekolah di Chicago, Georgia atau di Manhattan sana itu. Mang imajinasi ku terlalu imajiner sekali dan kenapa aku tiba-tiba sok tahu tentang ketiga big city tersebut. Apakah itu karena YouTube atau karena gara-gara Qurrata Ayyun, gadis berkerudung putih yang cantik ayu di sekolah SMP negeri 74 Jakarta idola beberapa cowok muslim tuh. Emang dia pemalu dan ternyata dia sepupuku entah dari pihak mamaku atau dari pihak papaku dan semoga saya tidak terlalu sering jatuh cinta dengannya karena aku ini superlah begok nya. Ku masuki kedai itu ternyata ada warteg yang anehnya kog berwarna hijau, di dekat rumahku dekat pasar Ampera kampung Ambon juga ada warteg warnanya putih, kuning dan bahkan abu-abu lagi. Ku masuk saja kedai tersebut dan ternyata ada 2 senior SMA Negeri 21 Jakarta disana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar